Kamis, Desember 16, 2010

Mak, I'm goin' to California

Mumpung di Amerika,” begitu kata-teman-teman. Tidak heran jika kemudian “winter break” betul-betul dijadikan sebagai ajang travel atau jalan-jalan mengunjungi berbagai tempat di Amerika. Buat mereka yang memiliki budget besar, tidak tanggung-tanggung bisa mengunjungi tiga kota besar sekaligus. Misalkan, Los Angeles, Chicago hingga New York. Sedikit bocoran, baik Los Angeles,Chicago dan New York adalah tiga kota di tiga state yang berbeda dan untuk mengunjungi tempat-tempat tersebut harus menyediakan budget besar. Apalagi jika ditempuhnya dengan menggunakan pesawat. Nah, buat yang modalnya pas-pasan seperti saya, satu tempat saja sudah cukup. Kalau saja ada yang beri duit. Mungkin bisa lebih banyak. Bapak pejabat, tolong beri saya duit.

Saya memilih California sebagai tempat berlibur. Los Angeles tepatnya. Alasannya, di sana ada Hollywood. Tempatnya para artis dan tokoh terkenal. Begitu yang saya dengar. Suhu di sana pun agak mendingan. Agak lebih hangatlah dibanding Washington yang kini mulai keseringan di bawah nol derajat celcius pada musim dingin ini. Alasan terpenting lainnya adalah, tiket yang saya dapatkan ke California jauh lebih murah dibanding bepergian ke tempat lain. “Maaf, saya kehabisan budget”

Rencana awal untuk bepergian bersama beberapa teman asal Indonesia gagal berantakan. Ujung-ujungnya yang tersisa hanya ada saya dan Thya. Tiket serta hotel sudah di booking sebelumnya, sehingga tidak ada alasan lagi untuk tidak pergi. Apalagi kami berdua memang dari Sulawesi Selatan. Tidak heran kalau kami sama-sama memakai istilah pelaut Bugis-Makassar dahulu. “Toddopuli Temalara'” atau dalam istilah Makassarnya, “Le'ba kusorona biseangku, kucampa'a sombalakku, tamassaile puna teai labuang.” Yang intinya: “Sekali layar terkembang, pantang bagi kami mundur ke daratan”

Dan petualangan pun bermula. Dimulai dari ujung Barat Amerika, Bellingham. Kami mengambil bus menuju Mount Vernont lalu Everett. Kami singgah sebentar di Everett demi mencicipi kari India lalu melanjutkan perjalanan lagi dengan bus menuju Seattle. Dari Seatlle, Kerete Api “Mono Rail” yang tiketnya sekitaran 2,5 dollar membawa kami menembus malam menuju Seattle-Tacoma International Airport. Kami mungkin gila karena flight yang akan kami gunakan berangkat pada jam tujuh pagi. Namun karena budget yang terbatas dan tak mungkin menyewa hotel di dekat bandara, maka satu-satunya jalan adalah bermalam di bandara. Hitung-hitung dapat pengalaman. Mumpung di Amerika.

Beruntung bagi saya, karena SeaTac airport adalah salah satu airport ternyaman yang pernah saya datangi. Belum lagi ditunjang fasilitas yang canggih untuk check in serta koneksi internet yang super duper cepat plus gratis. Saya jadi teringat waktu di bandara Narita-Jepang dulu. Saya harus membayar 100 yen untuk sepuluh menit internet. Kalah tuh Jepang. And guess what...malam itu kami ternyata tidak sendirian tidur di bandara. Ada puluhan orang lainnya yang juga tidur di bandara. Bisa diprediksi kalau kami juga bukan satu-satunya orang yang kekurangan budget :-)

Sayangnya, gak ada Mushallah di sini. Gak seperti di bandara Sukarno Hatta Jakarta atau bandara Hasanuddin Makassar.

Akhirnya malam itu kami menghabiskan waktu dengan bermain scrabble serta online di dunia maya. Tak lupa menonton live semifinal pertandingan sepak bola AFF cup antara Indonesia vs Filiphina melalui Tv online. Gemuruh supoter memuncak saat menit ke 32, Christian “Habibi” Gonzales menyundul bola memanfaatkan umpan Firman Utina. Goooooolllll...!!!! Dan bait terakhir anthem Indonesiapun berkumandang. Hiduplah Indonesia Raya...

Sampailah kita pada tahap scary thing on American Airport. Mereka menyebutnya check point security. Dengan alasan keamanan, maka semua penumpang yang akan masuk keruang tunggu akan diperiksa. Tidak tanggung-tanggung,sepatu pun harus ikut dibuka. Sambil malu-malu saya membuka sepatu saya sambil berharap orang lain tak menyadari aroma aneh yang tiba-tiba menyebar. Bukan hanya sepatu, buat wanita yang melewati metal detector dan benda hebat itu tetap berbunyi, mereka harus melepas baju sehingga yang tersisa hanya baju dalam mereka. Hasilnya, dari pemeriksaan tersebut saya harus merelakan air minum serta gel seharga 140.000 rupiah itu di buang oleh petugas karena dianggap tidak layak masuk ke areal bandara.

Dan setelah menunggu beberapa jam plus tiga puluh menit penundaan pesawat. Kami ahirnya menuju maskapai penerbangan yang akan kami gunakan. “Virgin America Airlaines”. Nama yang aneh menurut saya. Satu saat nanti kayaknya bakal ada Handsome Airlines atau Widow Airlines juga nih. Namun jangan salah. Meskipun nama penerbangannya aneh. Kapalnya terkesan mewah dengan lampu ungu yang menghiasinya. Romantis abis. Belum lagi pesawatnya yang dilengkapi tv di setiap kursinya. Itu termasuk kelas ekonomi. Padahal ini cuman penerbangan domestik. Setahu saya, di Indonesia hanya Garuda yang seperti ini. Itupun tidak semua pesawatnya.

Sayapun memasang sabuk pengaman, Menyandarkan kepala pada bantalan kursi. Menyambungkan headset pada layar tv. Memutar musik lalu bersiap mengambil posisi terbaik saya. Tentunya untuk tidur.

Rata Penuh

Ingin rasanya saya berteriak. Maaaak, I'm goin' to California.

4 komentar:

Kojack mengatakan...

give me more picture!!!
hahahaha...

aku winterbreak cukuplah di chicago saja :)

putriziwa mengatakan...

omg omg....
mauuu jugaaa ke amerikaaaa.. hahahah

simple-learning mengatakan...

Wow.. seru bgt Sam... hebat deh nginap di bandara..gw habis $68 utk hotel dekat LA airport..
wah,,, lain kali jgn bw air minum...
bawa botol kosong aja.. ntar setelah cek keamanan kan ada tap water..

heri knox mengatakan...

so excited to go there...wait my coming ya...^^

Pages