Sabtu, Januari 01, 2011

This is How People Celebrate New Year

Tentunya, ada banyak cara untuk merayakan pergantian tahun baru versi Masehi. Tak perduli mau tempatnya di Tokyo, Sidney, London, Paris, Vancouver, New York, Washington DC, Dubai, Jakarta, Bandung, Jayapura ataupun Makassar tercinta. Umumnya, pergantian tahun ini akan dirayakan dengan “fireworks.” Sepertinya, kembang api adalah sebuah keharusan. “Gak ada lo Gak Rame”. Bedanya, keindahan dan kemewahan kembang apinya tergantung dari negaranya. Tampa bermaksud memandang remeh, bisa saja kembang api di sini lebih terlihat megah dan mewah. Soalnya ditunjang budget yang besar, teknologi plus panitia yang tentunya tidak “korupsi.” Ups, Mohon maaf kepada negara yang tersinggung dan terkenal korupsinya…

Untuk urusan tempat sudah tentu dipusatkan di titik point tempat masyarakat bisa berkumpul. Sebut saja kalau di Jakarta biasanya di Monas, Makassar di Pantai Losari, New York di Time Square dan Seattle di Space needle.

Sayangnya, saya harus melewatkan pesta kembang api super meriah di Seattle karena memilih merayakan malam tahun baru dengan jalan lebih tradisional. “Kumpul dengan keluarga Amerika” Alasannya simpel, saya bisa saja menyaksikan tayangan fireworks itu melalui tv ataupun Youtube. Namun melewatkan New Years Eve with Traditional Values of America entah kapan lagi......

Well, I’ve got lucky bisa bertemu dengan Greg dan istri tercintanya Catalina. Pasangan super duper gokil dan selalu ceria. Entah telah berapa kali mereka memanggil kami ke setiap party, entah itu party di rumah mereka ataupun party di rumah temannya. Off course, partinya bukan party ala remaja seperti yang dulu biasa saya datangi. Mabuk-mabukan sampai dah gak sadar main film porno-pornoan. Kali ini partinya lebih ramah lingkungan, lebih pengertian, dan lebih dewasa.

Ada 13 orang yang malam itu berkumpul. Hanya saya, Thya, Tyena yang tergolong remaja umur 20 an. 23 maksudnya. Si Seft lebih parah lagi, dia masih di bawah umur. Let say 10 years. Lainnya boleh dikata sudah 30 an lebih. Malam itu dimulai dengan mencicipi makanan dari berbagai negeri. Ada Indonesia, Malaysia, Amerika, dan Israel. Selanjutnya, sambil menanti pergantian tahun, kami bermain games board, Jenga dan Uno. Jenga adalah permainan balok kayu kecil yang tersusun rapi berbentuk menara. Cara memainkannya adalah dengan jalan membentuk menara baru di atas menara yang lama dengan jalan mengambil balok paling bawah lalu menyusunnya di atas. “Don’t get the tower fall down”, Jangan sampai menaranya jatuh. Itu intinya. sedang Uno lebih pada permain game kartu biasa. Setiap kartu memiliki warna dan nomer tersendiri. Tak lupa beberapa kartu “super” yang membuat permainan makin menarik. Kalau yang ini intinya: “Siapa yang kartunya habis, dialah pemenangnya.” Either way, untuk lebih lengkapnya, Om Google mungkin bisa menjawab. Bagaimana om....????

Tepat pukul 12:00 kamipun semua bersulang. Setiap orang memegang cangkir berisi wine di dalamnya. Wine memang menjadi minuman biasa disini. Untuk kami yang Muslim, Secangkir Apple Cider sebagai pengganti wine. Kami pun ikut bersulang. Mereka yang berkeluarga berpelukan lalu mencium pasangan mereka. Di luar sana bunyi terompet dan kembang api mulai bemunculan. Happy New Year.

Malam itu kami kembali pukul 2:30 setelah sebelumnya menghabiskan banyak waktu sambil bermain game plus berkeliling gila ria di tengah kota yang mulai sepi karena penduduknya mulai tertidur lelah setelah merayakan tahun baru.

Are we done yet....??????????

Sepertinya tidak. Karena keseekon harinya, pagi sekitar jam 9:00 a.m. Marry seorang Student Coordinator di Whatcom Community College datang lalu mengajak kami ke Lake Paden. Hari itu, pagi pertama di tahun 2011 betul-betul dingin, putih salju dimana-mana. Saking dinginnya, beberapa bagian danau bahkan sampai membeku. And here we go.... Ternyata, sudah menjadi tradisi di kota kecil ini mengawali tahun baru dengan berlari mengelilingi danau di pagi hari lalu mengakhirinya dengan bersama-sama “nyemplung” masuk kedalam danau. Gak perduli tua, muda, laki atau perempuan, semua pada turun ke air. Banyak diantara mereka yang bahkan hanya memaki pakaian renang doang. Grrgggggggggghhh, gilaaaaaa pasti dinginnya minta ampun. Saya saja yang melihatnya sudah menggigil duluan..

Di akhir acara saya pun kebagian certificate yang seharusnya diberikan kepada mereka yang terjun ke danau. Namun berhubung saya turut ikut ambil bagian setidaknya dengan berlari-lari kecil mengelilingi danau, maka tak apalah. Kalaupun nanti mereka minta certicificate nya di balikin juga gak papa...

Finally, that was my New Year in America. Time to make resolution right now. Seperti tahun-tahun sebelumnya, di awal tahun saya selalu bermimpi setinggi-tingginya dengan resolusi saya. Kuharap kalian begitupun adanya. Tahun ini…Saya masih gila saja untuk bermimpi. Bukankah Tuhan memeluk mimpi-mimpi hambaNya. Maka bermimpilah. Ah, semoga saja tahun depan bisa dapat beasiswa lagi ke negeri yang lain….ngarep.com

Tentunya, sayapun berharap bisa menjadi pribadi yang lebih baik di tahun ini. Saya jadi teringat inspirational quote terkait tahun baru yang pernah diucapkan seniornya Obama, Benjamin Franklin: “Be at war with your vices, at peace with your neighbors, and let every New Year find you a better man.”

Amien….Semoga..

NB: Click the picture untuk lebih Jelas ;-P

2 komentar:

simple-learning mengatakan...

Aminnn... mantap deh resolusinya.. semoga tercapai yach.. ^^

Naym mengatakan...

Hay kakak..
salam kenal, sy blogger makassar juga,
tai blogku tentang Game kodong (hobiku), ehhe
enak baca2 blogta.. bikin Pengen ke Amerika.

Pages